Mata
Kuliah : Teori Belajar
Sks : 2 Sks
Semester : III (Ganjil)
Dosen : Iswadi, M. Pd
HP : 08126952861
Petunjuk :
1. Kerjakan semua soal ini.
2. Sifat ujian Take Home.
3. Jawaban
UTS dikirim ke email iswadi.kusumanegara@gmail.com
oleh masing-masing mahasiwa. Mahasiswa (tidak boleh diwakilkan)
selambat-lambatnya
tanggal 1 Februari 2016.
4. Bagi Mahasiswa yang tidak mengirimkan jawaban ke email
iswadi.kusumanegara@gmail.com dianggap
tidak mengikuti UTS.
RUBRIK
PENILAIAN
UJIAN
TENGAH SEMESTER
TEORI
BELAJAR
SEM.
III 2015/2016
HARI, TANGGAL UTS : SABTU, 30 Januari 2016
SIFAT UJIAN : TAKE HOME
FAKULTAS : S-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA
CARA PENGGUNAAN :
1. Dalam
dokumen ini, terdapat 8 soal yang berbentuk essay dan masing-masing soal
memiliki komponen sebagai berikut:
a. Deskripsi
jawaban
b. Cara
Penilaian
c. Rubrik
Penilaian
2. Tata
cara penilaian untuk tiap soal dapat dilihat pada bagian Cara Penilaian.
3. Nilai
setiap soal ditentukan oleh Rubrik Penilaian berdasarkan suatu kriteria
tertentu.
4. Nilai
setiap soal adalah dalam skala 0 s.d. 4 atau bisa dikonversi menjadi indeks E s.d.
A.
5. Setelah
semua soal diberikan nilai, maka diberikan nilai akhir dengan cara mengalikan
setiap nilai soal dengan setiap nilai bobot masing-masing, yaitu:
a. Soal
1 : 10%
b. Soal
2 : 10%
c. Soal
3 : 20%
d. Soal
4 : 20%
e. Soal
5 : 10%
f. Soal
6 : 10%
g. Soal
7 : 10%
h. Soal
7 : 10%
Soal
1. Jawaban Uraian Singkat [Bobot : 10%]:
Kegagalan pembelajaran di
sekolah-sekolah dan perguruan tinggi dewasa ini lebih banyak terjadi di tigkat
proses (interaksi) pembelajaran. Jika ya jelaskan mengapa itu terjadi dan jika
tidak coba kamu identifikasi ditingkat mana kegagalan itu terjadi dilengkapi
dengan penjelasan yang argumentatif.
Alternatif Jawaban:
Setuju dengan argumentasi ini, kegagalan pembelajaran kita adalah di
proses interaksi pembelajaran yang
dikendalikan oleh para guru. Guru yang merupakan ujung tombak pendidikan
seharusnya menciptakan proses interaksi yang kondusif sehingga memudahkan bagi
siswa mencerna materi yang disampaikan. Kegagalan interaksi ini disebabkan
kurangnya persiapan para guru didalam Perencanaan sehingga sering kali hal yang
hendak dijelaskan oleh guru melencerng dari rencana awal yang sudah disusun.
Oleh karena itu sepatutnya lah para guru menciptakan suasana interaksi belajar
mengajar yang baik dan proses belajar menjadi milik bersama
antara guru dan siswa serta proses nya bisa diandalkan sebagai aksi unjung
tombak pendidikan indonesia.
Cara Penilaian:
1. Berikan
penilaian untuk soal di atas. Jawaban untuk soal tersebut tidak harus persis sama, tetapi benar. Soal
dinilai sebagai berikut:
Nilai Deskripsi
2 Jawaban
benar (boleh kurang sedikit, tapi jawaban seluruhnya benar/tidak
ada
kesalahan)
1 Jawaban
masih ada kesalahan, tapi mengarah pada jawaban yang benar
0 Mengerjakan, tapi salah total, atau tidak
mengerjakan
2. Jumlahkan/total
nilai semua butir soal di atas untuk mendapatkan Nilai Total. Nilai
Total maksimum = 10; Nilai Total minimum = 0.
3. Cocokkan
Nilai Total dengan deskripsi kriteria Rubrik Penilaian di bawah
untuk mendapatkan indeks dan nilai soal. Mohon diperhatikan penilaian khusus
untuk Nilai Total = 0.
Rubrik Penilaian:
Indeks Nilai
Deskripsi Kriteria
A 4 Nilai Total = 10
A- 3.75 Nilai Total = 9
AB 3.5 Nilai Total = 8
B 3
Nilai Total =
7
BC 2.5 Nilai Total = 6
C 2 Nilai Total = 5
C- 1.75 Nilai Total = 4
D+ 1.5
Nilai Total = 3
D 1 Nilai Total = 2
D- 0.75 Nilai Total = 1
E+ 0.5 Nilai Total = 0, tapi
masih mengerjakan (walaupun
hanya
1 butir soal, tapi harus cukup
signifikan)
E 0 Nilai Total = 0, dan tidak mengerjakan.
Soal
2. Jawaban Uraian Singkat [Bobot : 10%]:
Salah satu hal yang dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah adalah kesiapan guru di
dalam proses belajar mengajar. Coba kamu jelaskan maksud tersebut.
Alternatif Jawaban:
Kesiapan guru dalam mengajar sangat menentukan kualitas pembelajaran hal ini disebabkan oleh peran
langsung guru dalam mendidik muridnya out put sebuah lembaga
pendidikan sangat tergantung sama kualitas guru. Jika para guru mempunyai kesiapan yang matang dalam
mengajar, tentunya proses belajar mengajar akan lebih terarah sehingga tujuan
yang sudah direncanakan bisa tercapai dan terlaksana dengan baik. Jika guru
mengajar apa yang ingin dia ajarkan tanpa mempunyai kesiapan rencana yang matang akan membuat
kelas tidak terarah ketujuan pendidikan yang diharapkan.
Oleh karena itu, kualitas guru dalam mengajar sangat menentukan kualitas murid-muridnya. Kualitas guru dalam mengajar juga sangat ditentukan oleh
seberapa matang perencanaan dalam pembelajaran yang sudah dia tentukan.
Jadi intinnya adalah. Perencanaan sangat menentukan
kinerja guru dan kualitas murid-murid.
Cara
Penilaian:
1. Berikan
penilaian untuk soal di atas. Jawaban untuk soal tersebut tidak harus persis sama, tetapi benar. Soal
dinilai sebagai berikut:
Nilai Deskripsi
2 Jawaban
benar (boleh kurang sedikit, tapi jawaban seluruhnya benar/tidak
ada
kesalahan)
1 Jawaban
masih ada kesalahan, tapi mengarah pada jawaban yang benar
0 Mengerjakan,
tapi salah total, atau tidak mengerjakan
2. Jumlahkan/total
nilai semua butir soal di atas untuk mendapatkan Nilai Total. Nilai
Total maksimum = 10; Nilai Total minimum = 0.
3. Cocokkan
Nilai Total dengan deskripsi kriteria Rubrik Penilaian di bawah
untuk mendapatkan indeks dan nilai soal. Mohon diperhatikan penilaian khusus
untuk Nilai Total = 0.
Rubrik Penilaian:
Indeks Nilai
Deskripsi Kriteria
A 4 Nilai Total = 10
A- 3.75 Nilai Total = 9
AB 3.5 Nilai Total = 8
B 3
Nilai Total =
7
BC 2.5 Nilai Total = 6
C 2 Nilai Total = 5
C- 1.75 Nilai Total = 4
D+ 1.5
Nilai Total = 3
D 1 Nilai Total = 2
D- 0.75 Nilai Total = 1
E+ 0.5 Nilai Total = 0, tapi
masih mengerjakan (walaupun
hanya
1 butir soal, tapi harus cukup
signifikan)
E 0 Nilai Total = 0, dan tidak mengerjakan.
Soal
3. Jawaban Uraian Panjang [Bobot : 20%]:
Jelaskan Peranan dan tuntutan
Guru dalam pembelajaran serta bagaimana
cara belajar dan mengajar yang
efektif.
Alternatif Jawaban:
a.
Peran Pendidik Dalam Dunia Pendidikan
Peran Seorang
Guru Secara Umum
1.
Guru
sebagai pendidik
Guru adalah
pendidik yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi peserta didik, dan lingkungannya.
Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang
mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
2. Guru sebagai pengajar
Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai
factor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru,
kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman, dan keterampilan guru dalam
berkomunikasi. Jika factor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran
peserta didik dapat belajar dengan baik. Oleh karena itu, guru harus berusaha
membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik, dan berusaha lebih terampil
dalam memecahkan masalah. Untuk itu, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan
guru dalam pembelajaran:
a. Membuat ilustrasi
b.
Mendefinisikan
c.
Menganalisis
d.
Mengsintesis
e.
Bertanya
f.
Merespon
g.
Mendengarkan
h.
Menciptakan kepercayaan
i.
Memberikan pandanganyang bervariasi
j.
Menyediakan media untuk mengkaji materi standar
k.
Menyesuaikan materi pembelajaran
l.
Memberikan nada perasaan
3. Guru sebagai
pembimbing
Sebagai pembimbing perjalanan, guru memerlukan kompetensi
yang tinggi untuk melaksanakan empat hal berikut, pertama, guru harus
merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai. Kedua,
guru harus melihat keterlibatan peserta didikdalam pembelajaran, dan yang
paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak
hanya secara jasmaniyah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis.
Ketiga, guru harus memaknai kegiatan belajar. Keempat, guru harus melaksanakan
penilaian.
4.
Guru sebagai pelatih
Guru harus berperan sebagai pelatih, yang bertugas untuk
melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar, sesuai dengan
kompetensi masing-masing. Pelatihan yang dilakukan, di samping harus
memperhatikan kompetensi dasar dan materi standar, juga harus mampu
memperhatikan perbedaan individual peserta didik, dan lingkungannya. Untuk itu
guru harus banyak tahu, meskipun tidak mencakup semua hal, dan tidah setiap hal
secara sempurna, kerena hal itu tidaklah mungkin.
5.
Guru
sebagai penasihat
Guru adalah seorang penasihat bagi peserta didik, bahkan
bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai
penasihatdan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasihati orang.
Menjadi guru pada tingkat manapun berarti menjadi
penasihat dan menjadi orang kepercayaan, kegiatan pembelajaran pun
meletakkannya pada posisi tersebut. Peserta didik senantiasa berhadapan dengan
kebutuhan untuk membuat keputusan, dan dalam prosesnya akan lari kepada
gurunya. Dan, makin efektif guru menangani setiap permasalahan, makin banyak
kemungkinan peserta didik berpaling kepadanya untuk mendapatkan nasihat dan
kepercayaan diri.
6.
Guru
sebagai model atau teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik
dan semua orang yang menganggap dia sebagi guru. Sebagi teladan, tentu saja
pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta
orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagi guru.
Sehubungan itu, beberapa hal di bawah ini perlu mendapat perhatian, dan bila
perlu didiskusikan para guru.
a. sikap dasar
b.
bicara
dan gaya bicara
c.
kebiasaan
bekerja
d.
sikap
melalui pengalaman dan kesalahan
e.
pakaian
f.
hubungan
kemanusiaan
g.
proses
berpikir
h.
selera
i.
keputusan
j.
kesehatan
k.
gaya
hidup secara umum
7.
Guru
sebagai pribadi
Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru
harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan
kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat dibanding
profesi lainnya. Ungkapan yang sering dikemukakan adalah bahwa "guru bisa
di gugu dan di tiru". Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan
guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa
ditiru atau diteladani. Guru sering dijadikan panutan oleh masyarakat, untuk
itu guru harus mengenal nilai-nilai yang dianut dan berkembang di masyarakat,
tempat melaksanakan tugas dan bertempat tinggal.
8.
Guru
sebagai peneliti
Pembelajaran merupakan seni, yang dalam pelaksanaanya
memerlukan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi lingkungan. Untuk itu
diperlukan berbagai penelitian, yang di dalamnya melibatkan guru. Oleh karena
itu, guru adalah seorang pencari atau peneliti. Dia tidak tahu dan dia tahu
bahwa dia tidak tahu, oleh karena itu dia sendiri merupakan subyek pembelajaran.
Dengan kesadaran bahwa ia tidak mengetahui sesuatu maka ia berusaha
mencarinyamelalui kegiatan penelitian. Usaha mencari sesuatu itu adalah mencari
kebenaran, sepertiseorang ahli filsafat yang senantiasa mencari, menemukan dan
mengemukakan kebenaran
9.
Guru
sebagai motivator
Dalam
upaya memberikan motivasi, guru dapat menganalisis motif-motif yang
melatarbelakangi anak didik malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah.
Motivasi dapat efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan anak
didik. Penganekaragaman cara belajar memberikan penguatan dan
sebagainya, juga dapat memberikan motivasi pada anak didik untuk lebih
bergairah dalam belajar.
10. Guru sebagai pendorong kreativitas
Sebagai orang yang kreatif, guru menadari bahwa
kreatifitas merupakan yang universal dan oleh karenanya semua kegiatannya di
topang, di bombing dan dibangkitkan oleh kesadaran itu, ia sendiri adalah
seorang creator dan motivator, yang berada di pusat proses pendidikan. akibat
dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik
dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan menilainya bahwa ia
memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu secara rutin saja. Kreativitas
menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih bik dari yang
telah di kerjakan sebelumnya dan apa yang akan di kerjakan di masa mendatang
lebih baik dari sekarang.
11.
Guru
sebagai pembangkit pandangan
Dunia ini panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai
kisah dan peristiwa, mulai dari kisah nyata sampai yang direkayasa. Dalam hal
ini, guru dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan
kepada peserta dididiknya. Mengemban fungsi ini guru harus terampil dalam
berkomunikasi dengan peserta didik di segala umur, sehingga setiap langkah dari
proses pendidikan yang dikelolanya di laksanakan untuk menunjang fungsi ini.
Guru tahu bahwa ia tidak dapat membangkitkan pandangan tentang kebesaran kepada
peserta didik jika ia sendiri tidak memilikinya. Oleh karena itu, para guru
perlu dibekali dengan ajaran tentang hakekat manusia dan setelah mengenalnya
akan mengenal pula kebesaran allah yang menciptakannya.
12.
Guru
sebagi pekerja rutin
Guru bekerja dengan keterampilan, dan kebiasaan tertentu,
serta kegiatan rutin yang amat di perlukan dan seringkali memberatkan. Jika
kegiatan tersebut tidak dikerjakan dengan baik, mak bias mengurangi atau
merusak keefektifan guru pada semua peranannya.
Sedikitnya terdapat 17 kegiatan rutin yang sering
dikerjakan guru dalam pembelajarn di setiap tingkat, yaitu:
a. bekerja tepat waktu baik diawal maupun akhir pembelajaran
b. membuat catatan dan laporan sesuai dengan standar
kinerja, ketepatan dan jadwal waktu
c. membaca, mengevaluasi dan mengembalikan hasil kerja
peerta didik
d. mengatur kehadiran peserta didik dengan penuh tanggung
jawab
e. mengatur jadwal, kegiatan harian, mingguan, semesteran
dan tahunan
f. mengembangkan peraturan dan prosedur kegiatan kelompok,
termasuk diskusis
g. menetapkan jadwal peserta didik
h. mengadakan pertemuan dengan orang tua dan dengan peserta
didik
i. mengatur tempat duduk peserta didik
j. mencatat kehadiran peserta didik
k. memahami peserta didik
l. menyiapkan bahan-bahan pembelajaran, kepustakaan, dan
media pembelajaran
m. menghadiri pertemuan dengan guru, orang tua peserta didik
dan alumni
n. menciptakan ikhlas kelas yang kondusif
o. melaksanakan latihan-latihan pembelajaran
p. merencanakan program khusus dalam pembelajaran, misalnya
karyawisata
q. menasehati peserta didik
13.
Guru
sebagai seorang aktor
Sebagai seorang aktor, guru harus melakukan apa yang ada
dalam naskah yang telah disusun dengan mempertimbangkan pesan yang akan
disampaikan kepada penonton. Penampilan yang bagus dari seorang actor akan
mengakibatkan para penonton tertawa, mengikuti dengan sungguh-sungguh, dan bisa
pula menangis terbawa oleh penampilan sang actor. Untuk bisa berperan sesuai
dengan tuntutan naskah, dia harus menganalisis dan melihat kemampuannya
sendiri, persiapannya, memperbaiki kelemahan, menyempurnakan aspek-aspek baru
dari setiap penampilan, mempergunakan pakaian, tat arias sebagaiman yang
diminta, dan kondisinya sendiri untuk menghadapi ketegangan emosinya dari malam
ke malam serta mekanisme fisik yang harus ditampilkan.
14.
Guru
sebagai pengawet
Salah satu tugas pendidikan adalah mewariskan kebudayaan
dari generasi ke generasi berikutnya, karena hasil karya manusia terdahulu
masih banyak yang bermakna bagi kehidupan manusia sekarang maupun di masa
depan. Hal ini disebabkan oleh keberhasilan tugas pendidikan yang lain, yaitu
pembekalan individu agar mampu berpartisipasi dalam masyarakat dan mampu
memberikan sumbangan bagi kehidupan di masa depan. Upaya pelestarian dilakukan
melalui pembekalan terhadap calon-calon guru. Untuk melaksanakan tugasnya
sebagai pengawet terhadap apa yang telah dicapai manusia terdahulu,
dikembangkan salah satu sarana pendidikan yang disebut kurikulum, yang secara
sederhana diartikan sebagai program pembelajaran
15.
Guru
sebagai supervisor
Guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai
secara kritis terhadap proses pengajaran. Tehnik-tehnik supervisi harus guru
kuasai dengan baik agar dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar
mengajar menjadi lebih baik. Untuk itu kelebihan yang dimiliki supervisor bukan
hanya karena pengalamannya, pendidikannya, kecakapannya, atau
keterampilan-keterampilan yang dimilikinya, atau karena memiliki sifat-sifat
kepribadian yang menonjol daripada orang-orang yang disupervisinya.
b.
Cara
Mengajar dan Belajar yang Efektif
Menurut hemat saya, cara belajar dan mengajar yang
efektif tergantung bagaimana seorang Guru bisa mentransfer ilmu ke siswannya,
sehingga dengan transfer ilmu ini akan
menimbulkan efek perubahan kearah lebih baik dan melekat dalam jangka waktu
yang lama. Hal inilah yang seharusnya menjadi titik perhatian utama dari guru.
Bukan hanya transferan ilmunya yang berhasil namun juga ada menimbulkan
perubahan yang bersifat permanen.
Untuk menciptakan perubahan permanen, seorang guru seharusnya menitik beratkan pembelajaran
hanya pada proses dan bukan hasil yang diharapkan. Sehingga pembelajaran akan
melekat pada ingatan siswa dan mampu memberikan efek positif bagi pelajar.
Cara
Penilaian:
1. Berikan
penilaian untuk soal di atas. Jawaban untuk soal tersebut tidak harus persis sama, tetapi benar. Soal
dinilai sebagai berikut:
Nilai Deskripsi
2
Jawaban benar (boleh kurang sedikit,
tapi jawaban seluruhnya benar/tidak
ada
kesalahan)
1 Jawaban masih ada kesalahan, tapi
mengarah pada jawaban yang benar
0 Mengerjakan, tapi salah total, atau
tidak mengerjakan
2. Jumlahkan/total
nilai semua butir soal di atas untuk mendapatkan Nilai Total. Nilai
Total maksimum = 10; Nilai Total minimum = 0.
3. Cocokkan
Nilai Total dengan deskripsi kriteria Rubrik Penilaian di bawah
untuk mendapatkan indeks dan nilai soal. Mohon diperhatikan penilaian khusus
untuk Nilai Total = 0.
Rubrik Penilaian:
Indeks Nilai
Deskripsi Kriteria
A 4 Nilai Total = 10
A- 3.75 Nilai Total = 9
AB 3.5 Nilai Total = 8
B 3
Nilai Total =
7
BC 2.5 Nilai Total = 6
C 2 Nilai Total = 5
C- 1.75 Nilai Total = 4
D+ 1.5
Nilai Total = 3
D 1 Nilai Total = 2
D- 0.75 Nilai Total = 1
E+ 0.5 Nilai Total = 0, tapi
masih mengerjakan (walaupun
hanya
1 butir soal, tapi harus cukup
signifikan)
E 0 Nilai Total = 0, dan tidak mengerjakan.
Soal
4. Jawaban Uraian Panjang [Bobot : 20%]:
Jelaskan berbagai macam
pendekatan dalam pembelajaran?
Alternatif Jawaban:
- Pendekatan Individual
Pendekatan individual merupakan pendekatan
langsung dilakukan guru terhadap anak didiknya untuk memecahkan kasus anak
didiknya tersebut.
Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas. Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan pendekatan individual, karena Pendekatan individual adalah suatu pendekatan yang melayani perbedaan perbedaan perorangan siswa sedemikian rupa, sehingga dengan penerapan pendekatan individual memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal. Dasar pemikiran dari pendekatan individual ini ialah adanya pengakuan terhadap perbedaan individual masing-masing siswa walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.
Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas. Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan pendekatan individual, karena Pendekatan individual adalah suatu pendekatan yang melayani perbedaan perbedaan perorangan siswa sedemikian rupa, sehingga dengan penerapan pendekatan individual memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal. Dasar pemikiran dari pendekatan individual ini ialah adanya pengakuan terhadap perbedaan individual masing-masing siswa walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.
- Pendekatan Kelompok atau cooperatif
Pendekatan kelompok merupakan pendekatan yang
dilakukan guru dengan cara mengelompokkan anak didiknya sesuai dengan
kriterianya demi tercapainya kegiatan belajar mengajar. Ketika guru ingin menggunakan
pendekatan kelompok, maka guru harus sudah mempertimbangkan bahwa hal itu tidak
bertentangan dengan tujuan. Fasilitas belajar pendukung, metode yang akan
dipakai sudah dikuasai, dan bahan yang akan diberikan kepada anak didik memang
cocok didekati dengan pendekatan kelompok. Karena itu, pendekatan kelompok
tidak bisa dilakukan seacara sembarangan, tetapi harus mempertimbangkan hal-hal
lain yang ikut mempengaruhi penggunaannya. Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan pelu digunakan
untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Hal ini disadari
bahwa anak didik adalah sejenis makhluk homo secius, yakni makhluk yang
berkecendrungan untuk hidup bersama. Dengan pendekatan kelompok, diharapkan
dapat ditumbuh kembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik.
Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka
masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial dikelas
- Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan anak
didik yang bermasalah, maka guru akan berhadapan dengan permasalahan anak didik
yang bervariasi. Setiap masalah yang dihadapi oleh anak didik tidak selalu
sama, terkadang ada perbedaan.
Permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pun akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Misalnya, anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda-beda pula. Demikian juga halnya terhadap anak didik yang membuat keribuatan. Guru tidak bisa menggunakan teknik pemecahan yang sama untuk memecahkan permasalahan yang lain. Kalaupun ada, itu hanya pada kasus tertentu. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah dalam pembicaraan ini didekati dengan “pendekatan bervariasi”.
Permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pun akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Misalnya, anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda-beda pula. Demikian juga halnya terhadap anak didik yang membuat keribuatan. Guru tidak bisa menggunakan teknik pemecahan yang sama untuk memecahkan permasalahan yang lain. Kalaupun ada, itu hanya pada kasus tertentu. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah dalam pembicaraan ini didekati dengan “pendekatan bervariasi”.
- Pendekatan Edukatif
Apa pun yang guru lakukan dalam pendidikan dan
pengajaran dengan tujuan untuk mendidik, bukan karena motif-motif lain, seperti
dendam, gengsi, ingin ditakuti dan sebagainya.
Anak didik yang telah melakukan kesalahan, yakni
membuat keribuatan di kelas ketika guru sedang memberikan pelajaran, misalnya,
tidak tepat diberikan sanksi hukum dengan cara memukul badannya hingga luka atau
cidera. Ini adalah tindakan sanksi hukum yang tidak bernilai pendidikan. Guru
telah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah menggunakan teori power,
yakni teori kekuasaan untuk menundukkan orang lain. Dalam pendidikan, guru akan
kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan, karena hal itu bisa
merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang
benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif adalah setiap
tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan,
dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma
susila, norma moral, norma sosial dan norma agama.
- Pendekatan Keagamaan
Khususnya untuk mata pelajaran umum, sangat
berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya
ilmu itu tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Dengan penerapan
prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi, guru dapat
menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum. Tentu saja
guru harus menguasai ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan mata pelajaran yang
dipegang. Misalnya : surah Yasiin ayat 34 dan 36 adalah bukti nyata bahwa
pelajaran biologi tidak bisa dipisahkan dari ajaran agama.
Akhirnya pendekatan agama dapat membantu guru
untuk memperbaiki kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa, yang pada akhirnya
nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami,
di hanyati dan di amalkanselama hayat siswa di kandung badan.
- Pendekatan Kebermaknaan
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan dan
memahami gagasan, pikiran, pendapat dan perasaan, secara lisan maupun tulisan.
Bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama di Indonesia yang dianggap penting
untuk tujuan penyerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni
budaya dan pembinaan hubungan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Dalam rangka penguasaan
bahasa Inggris tidak bisa mengabaikan masalahpendekatan yang harus digunakan
dalam proses belajar mengajar. Kegagalan penguasaan bahasa Inggris oleh siswa,
salah satu sebabnya adalah kurang tepatnya pendekatan yang digunakan oleh guru
selain faktor lain seperti faktor sejarah, fasilitas dan lingkungan serta
kompetensi guru itu sendiri. Hal ini perlu dipecahkan, salah satu alternatif ke
arah pemecahan masalah tersebut diajukanlah pendekatan baru, yaitu pendekatan
kebermaknaan.
7.
Pendekatan Problem Solving
Merupakan pendekatan yang mengarahkan atau melatih anak didik
untuk mampu memecahkan masalah dalam bidang ilmu atau bidang studi yang
dipelajari.
Contohnya guru memberikan sebuah masalah yang akan diselesaikan,
lalu siswa diminta untuk memahami masalah terlebih dahulu, setelah dipahami
masalah itu dirumuskan, mengajukan beberapa alternative pemecahan atau solusi,
terakhir siswa memilih solusi yang lebih tepat sehingga masalah dapat
diselesaikan
8.
Pendekatan kreatif
Pembelajaran kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan,
mengimajinasikan, melakukan inovasi, dan melakukan hal-hal yang artistik
lainnya. Dikarakterkan dengan adanya keaslian dan hal yang baru. Dibentuk
melalui suatu proses yang baru. Memiliki kemampuan untuk menciptakan. Dirancang
untuk mensimulasikan imajinasi. Kreatifitas adalah sebagai kemampuan
(berdasarkan data dan informasi yang tersedia) untuk memberikan gagasan-gagasan
baru dengan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang
menekankan pada segi kuantitas, ketergantungan dan keragaman jawaban dan
menerapkannya dalam pemecahan masalah.
9.
Pendekatan Kontekstual
Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning
(CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam konteks ini
siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan
bagaimana mencapainya.
10. Pendekatan Konstruktif
Pendekatan Constructivisme merupakan pendekatan yang menekankan
pentingnya siswa membangaun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif
dalam proses pembelajaran. Kegiatan berfokus pada pembelajaran secara mendalam
dengan pengalaman yang relevan, materi pembelajaran terintegrasi, dan disusun
sendiri oleh siswa.
11. Pendekatan deduktif
Pendekatan deduktif (deductive approach) adalah pendekatan
yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion)
berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Pendekatan deduktif merupakan
proses penalaran yang bermula dari keadaan umum ke keadaan khusus, sebagai
pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum dan
diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum ke
dalam keadaan khusus.
12. Pendekatan induktif
Pendekatan induktif (inductif approach) menyimpulkan
permasalahan dari hal-hal yang bersifat khusus.. Metode induktif sering digambarkan
sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus.
Pendekatan induktif menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik
kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai
sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. Pendekatan
induktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus menuju
keadaan umum.
13. Pendekatan proses
Pendekatan proses merupakan pendekatan pengajaran yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu
konsep sebagai suatu keterampilan proses. Pendekatan proses adalah pendekatan
yang berorientasi pada proses bukan hasil
Cara
Penilaian:
1. Berikan
penilaian untuk soal di atas. Jawaban untuk soal tersebut tidak harus persis sama, tetapi benar. Soal
dinilai sebagai berikut:
Nilai Deskripsi
2
Jawaban benar (boleh kurang sedikit,
tapi jawaban seluruhnya benar/tidak
ada
kesalahan)
1 Jawaban
masih ada kesalahan, tapi mengarah pada jawaban yang benar
0
Mengerjakan, tapi salah total, atau
tidak mengerjakan
2. Jumlahkan/total
nilai semua butir soal di atas untuk mendapatkan Nilai Total. Nilai
Total maksimum = 10; Nilai Total minimum = 0.
3. Cocokkan
Nilai Total dengan deskripsi kriteria Rubrik Penilaian di bawah
untuk mendapatkan indeks dan nilai soal. Mohon diperhatikan penilaian khusus
untuk Nilai Total = 0.
Rubrik Penilaian:
Indeks Nilai
Deskripsi Kriteria
A 4 Nilai Total = 10
A- 3.75 Nilai Total = 9
AB 3.5 Nilai Total = 8
B 3
Nilai Total =
7
BC 2.5 Nilai Total = 6
C 2 Nilai Total = 5
C- 1.75 Nilai Total = 4
D+ 1.5
Nilai Total = 3
D 1 Nilai Total = 2
D- 0.75 Nilai Total = 1
E+ 0.5 Nilai Total = 0, tapi
masih mengerjakan (walaupun
hanya
1 butir soal, tapi harus cukup
signifikan)
E 0 Nilai Total = 0, dan tidak mengerjakan.
Soal
5. Jawaban Uraian Panjang [Bobot : 10%]:
Tujuan
belajar menurut teori humanistik adalah untuk memanusiakan manusia.coba kamu
uraikan pengertian tersebut.
Alternatif Jawaban:
Tujuan belajar menurut
teori humanistik adalah untuk memanusiakan manusia, maksudnya proses
belajar dianggap berhasil jika para siswa sudah memahami dirinya sendiri dan
lingkungan disekeliling nya. para ahli humanistik melihat adanya dua bagian
pada proses belajar yaitu:
· Proses
pemrolehan informasi baru
· Personalia
informasi ini pada individu
Cara
Penilaian:
1. Berikan
penilaian untuk soal di atas. Jawaban untuk soal tersebut tidak harus persis sama, tetapi benar. Soal
dinilai sebagai berikut:
Nilai Deskripsi
2 Jawaban
benar (boleh kurang sedikit, tapi jawaban seluruhnya benar/tidak
ada
kesalahan)
1 Jawaban
masih ada kesalahan, tapi mengarah pada jawaban yang benar
0 Mengerjakan,
tapi salah total, atau tidak mengerjakan
2. Jumlahkan/total
nilai semua butir soal di atas untuk mendapatkan Nilai Total. Nilai
Total maksimum = 10; Nilai Total minimum = 0.
3. Cocokkan
Nilai Total dengan deskripsi kriteria Rubrik Penilaian di bawah
untuk mendapatkan indeks dan nilai soal. Mohon diperhatikan penilaian khusus
untuk Nilai Total = 0.
Rubrik Penilaian:
Indeks Nilai
Deskripsi Kriteria
A 4 Nilai Total = 10
A- 3.75 Nilai Total = 9
AB 3.5 Nilai Total = 8
B 3
Nilai Total =
7
BC 2.5 Nilai Total = 6
C 2 Nilai Total = 5
C- 1.75 Nilai Total = 4
D+ 1.5
Nilai Total = 3
D 1 Nilai Total = 2
D- 0.75 Nilai Total = 1
E+ 0.5 Nilai Total = 0, tapi
masih mengerjakan (walaupun
hanya
1 butir soal, tapi harus cukup
signifikan)
E 0 Nilai Total = 0, dan tidak mengerjakan
Soal
6. Jawaban Uraian Panjang [Bobot : 10%]:
Apa yang kamu ketahui
tentang teori kognitif dan bagaimana penerapannya dalam proses pembelajarannya.
Alternatif Jawaban:
a. Teori
kognitif : berhubungan dengan ingatan/pengenalan terhadap pengetahuan dan
informasi.Menurut teori ini belajar adalah:perubahan selalu berbentuk tingkah
laku yang dapat diamati dan dapat diikuti.Teori kognitif berisi
perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti
pengetahuan,pengertian,dan ketrampilan berpikir.
b. Penerapannya:guru
memberikan materi dan siswa menyerap materi yang diberikan oleh guru dengan sebaik
mungkin,dan guru memberikan evaluasi dengan pemberian tes soal.
Cara
Penilaian:
1.
Berikan penilaian untuk soal di
atas. Jawaban untuk soal tersebut tidak
harus persis sama, tetapi benar. Soal dinilai sebagai berikut:
Nilai Deskripsi
2 Jawaban
benar (boleh kurang sedikit, tapi jawaban seluruhnya benar/tidak
ada
kesalahan)
1
Jawaban
masih ada kesalahan, tapi mengarah pada jawaban yang benar
0
Mengerjakan, tapi salah total, atau
tidak mengerjakan
2.
Jumlahkan/total nilai semua butir
soal di atas untuk mendapatkan Nilai Total. Nilai Total maksimum = 10;
Nilai Total minimum = 0.
3.
Cocokkan Nilai Total dengan
deskripsi kriteria Rubrik Penilaian di bawah untuk mendapatkan indeks
dan nilai soal. Mohon diperhatikan penilaian khusus untuk Nilai Total = 0.
Rubrik Penilaian:
Indeks Nilai
Deskripsi Kriteria
A 4 Nilai Total = 10
A- 3.75 Nilai Total = 9
AB 3.5 Nilai Total = 8
B 3
Nilai Total =
7
BC 2.5 Nilai Total = 6
C 2 Nilai Total = 5
C- 1.75 Nilai Total = 4
D+ 1.5
Nilai Total = 3
D 1 Nilai Total = 2
D- 0.75 Nilai Total = 1
E+ 0.5 Nilai Total = 0, tapi
masih mengerjakan (walaupun
hanya
1 butir soal, tapi harus cukup
signifikan)
E 0 Nilai Total = 0, dan tidak mengerjakan
Soal
7. Jawaban Uraian Panjang [Bobot : 10%]:
Apa yang kamu ketahui
tentang konsep dasar evaluasi belajar dan pembelajaran.
Alternatif Jawaban:
Evaluasi merupakan
kegiatan menilai yang terjadi dala kegiatan pembelajaran.menurut davies
evaluasi merupakan proses sederhana memberikan/menetapkan nilai kepada seluruh
tujuan, proses dan lain-lain. Menurut wand brown evaluasi adalah suatu proses
untuk menentukan nilai dari sesuatu tujuan evaluasi adalah mengetahui tingkat
keberhasilan PBM, mendiskripsikan kemampuan belajar siswa, dan
lain-lain.evaluasi mempunyai manfaat bagi siswa yaitu seorang siswa dapat
mengetahui sejauh mana mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Sedangkan
manfaat bagi guru adalah dapat mengetahui siswa mana yang sudah berhak
melanjutkan pelajarannya maupun mengetahui siswa yang belum menguasai bahan
pelajaran.
Cara
Penilaian:
1. Berikan
penilaian untuk soal di atas. Jawaban untuk soal tersebut tidak harus persis sama, tetapi benar. Soal
dinilai sebagai berikut:
Nilai Deskripsi
2 Jawaban
benar (boleh kurang sedikit, tapi jawaban seluruhnya benar/tidak
ada
kesalahan)
1 Jawaban
masih ada kesalahan, tapi mengarah pada jawaban yang benar
0 Mengerjakan,
tapi salah total, atau tidak mengerjakan
2. Jumlahkan/total
nilai semua butir soal di atas untuk mendapatkan Nilai Total. Nilai
Total maksimum = 10; Nilai Total minimum = 0.
3. Cocokkan
Nilai Total dengan deskripsi kriteria Rubrik Penilaian di bawah
untuk mendapatkan indeks dan nilai soal. Mohon diperhatikan penilaian khusus
untuk Nilai Total = 0.
Rubrik Penilaian:
Indeks Nilai
Deskripsi Kriteria
A 4 Nilai Total = 10
A- 3.75 Nilai Total = 9
AB 3.5 Nilai Total = 8
B 3
Nilai Total =
7
BC 2.5 Nilai Total = 6
C 2 Nilai Total = 5
C- 1.75 Nilai Total = 4
D+ 1.5
Nilai Total = 3
D 1 Nilai Total = 2
D- 0.75 Nilai Total = 1
E+ 0.5 Nilai Total = 0, tapi
masih mengerjakan (walaupun
hanya
1 butir soal, tapi harus cukup
signifikan)
E 0 Nilai Total = 0, dan tidak mengerjakan
Soal
8. Jawaban Uraian Panjang [Bobot : 10%]:
Banyak kaum intelektual yang hanya memiliki
kecerdasan intelektual dan spiritual akan tetapi tidak memiliki kecerdasan
emosional, gagal dalam berkomunikasi. Kenapa hal itu bisa terjadi? Berikan
penjelasan yang argumentasi!
Alternatif Jawaban:
Karena
khususnya para kaum yang murni hanya memiliki kecerdasan intelektual, mereka
cenderung memiliki rasa gelisah yang tidak beralasan, terlalu kritis, rewel,
cenderung menarik diri, terkesan dingin dan cenderung sulit mengekspresikan
kekesalan dan kemarahannya secara tepat. Bila didukung dengan rendahnya taraf
kecerdasan emosionalnya, maka orang-orang seperti ini sering menjadi sumber
masalah.
Karena
sifat-sifat di atas, bila seseorang memiliki IQ tinggi namun taraf kecerdasan
emosionalnya rendah maka cenderung akan terlihat sebagai orang yang keras
kepala, sulit bergaul, mudah frustrasi, tidak mudah percaya kepada orang lain,
tidak peka dengan kondisi lingkungan dan cenderung putus asa bila mengalami
stress. Kondisi sebaliknya, dialami oleh orang-orang yang memiliki taraf IQ
rata-rata namun memiliki kecerdasan emosional yang baik.
Cara
Penilaian:
1.
Berikan penilaian untuk soal di atas.
Jawaban untuk soal tersebut tidak harus
persis sama, tetapi benar. Soal dinilai sebagai berikut:
Nilai Deskripsi
2 Jawaban
benar (boleh kurang sedikit, tapi jawaban seluruhnya benar/tidak
ada
kesalahan)
1 Jawaban
masih ada kesalahan, tapi mengarah pada jawaban yang benar
0 Mengerjakan,
tapi salah total, atau tidak mengerjakan
2. Jumlahkan/total
nilai semua butir soal di atas untuk mendapatkan Nilai Total. Nilai
Total maksimum = 10; Nilai Total minimum = 0.
3. Cocokkan
Nilai Total dengan deskripsi kriteria Rubrik Penilaian di bawah
untuk mendapatkan indeks dan nilai soal. Mohon diperhatikan penilaian khusus
untuk Nilai Total = 0.
Rubrik Penilaian:
Indeks Nilai
Deskripsi Kriteria
A 4 Nilai Total = 10
A- 3.75 Nilai Total = 9
AB 3.5 Nilai Total = 8
B 3
Nilai Total =
7
BC 2.5 Nilai Total = 6
C 2 Nilai Total = 5
C- 1.75 Nilai Total = 4
D+ 1.5
Nilai Total = 3
D 1 Nilai Total = 2
D- 0.75 Nilai Total = 1
E+ 0.5 Nilai Total = 0, tapi
masih mengerjakan (walaupun
hanya
1 butir soal, tapi harus cukup
signifikan)
E 0 Nilai Total = 0, dan tidak mengerjakan
Soal
1.
Kegagalan
pembelajaran di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi dewasa ini lebih banyak
terjadi di tigkat proses (interaksi) pembelajaran. Jika ya jelaskan mengapa itu
terjadi dan jika tidak coba kamu identifikasi ditingkat mana kegagalan itu
terjadi dilengkapi dengan penjelasan yang argumentatif.
2.
Salah
satu hal yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah
adalah kesiapan guru di dalam proses belajar mengajar. Coba
kamu jelaskan maksud tersebut.
3. Jelaskan Peranan dan tuntutan Guru dalam pembelajaran
serta bagaimana cara belajar dan mengajar yang efektif!
4. Apa yang kamu ketahui tentang motivasi serta sejauh mana
pentingnya motivasi dalam pembelajaran?
5. Jelaskan berbagai macam pendekatan dalam pembelajaran?
6. Tujuan
belajar menurut teori humanistik adalah untuk memanusiakan manusia.coba kamu
uraikan pengertian tersebut.
7. Apa
yang kamu ketahui tentang konsep dasar evaluasi belajar dan pembelajaran.
8. Banyak kaum intelektual yang hanya memiliki kecerdasan intelektual dan
spiritual akan tetapi tidak memiliki kecerdasan emosional, gagal dalam
berkomunikasi. Kenapa hal itu bisa terjadi? Berikan penjelasan yang argumentasi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar